Reflection

1. Never explain yourself to any one. Because the person who likes you doesn't need it, and the person who dislikes you won't believe it.

2. When we wake up in the morning, we have two simple choice: Go back to sleep and dream, or wake up and chase those dreams.
Choice is yours...

3. Don't make promise when you are in joy. Don't reply when you are sad. Don't take decision when you are angry.
Think twice..., Act wise.

4. When you keep saying you are busy, then you are never free.
When you keep saying you have no time, then you will never have time.
When you keep saying that you will do it tomorrow, then your tomorrow will never come.

5. We make them cry who care for us. We cry for those who never care for us. And we care for those who will never cry for us. This is the truth of life, its strange but true. Once you realize this, its never too late to change.

6. Time is like a river. You cannot touch the same water twice, because the flow that has passed will never pass again.
Enjoy every moment of life...


Source: email from friend.

Ayo Makan Bayam


Penelitian Tulane University School of Public Health di New Orleans, Amerika Serikat, menyebutkan makan secangkir bayam setiap hari menghindarkan Anda dari serangan jantung. Bayam mengandung asam folat yang melindungi jantung dari serangan stroke. Asam folat yang terdapat pada setengah cangkir bayam, mampu menahan serangan stroke sebesar 20% dan gangguan pada jantung sebesar 13%. Penelitian ini dilakukan selama 20 tahun terakhir terhadap 9.764 lelaki dan perempuan sehat.



Sumber: CHIC 4 - 18 Juni 2008.

Peduli Lingkungan


Berikut ini adalah cara yang dapat kita lakukan untuk menjaga lingkungan.

1. SAAT MENGGOSOK GIGI,
Tutup keran air kalau nggak dipergunakan. Begitu pula saat mencuci tangan atau piring. Sayang, kan, kalau airnya dibiarkan mengalir dan terbuang sia-sia.

2. MENGHEMAT PEMAKAIAN TISU, KERTAS, DAN SUMPIT.
Banyak pohon yang 'dikorbankan' untuk memproduksi tiga benda itu.

3. HINDARI MENIMBUN SAMPAH DI DALAM TANAH.
Pasalnya, racun dari sampah dapat merembes dan mempengaruhi kualitas air tanah.

4. MANFAATKAN LIMBAH RUMAH TANGGA.
Sampah organik bisa dijadikan pupuk kompos, sedangkan yang non-organik bisa dikreasikan menjadi benda lain. Contohnya, botol sirup dijadikan vas bunga.

5. MANDI DENGAN PANCURAN ATAU SHOWER.
Terbukti lebih irit air, tuh, dibandingkan mandi pakai gayung, apalagi berendam di bathtub.

6. GUNAKAN TAS - BUKAN KANTONG PLASTIK.
Untuk belanja kebutuhan sehari-hari gunakan tas yang bisa dipakai berulang kali.

7. TANAMI LAHAN KOSONG.
Meski hanya sepetak lahan kosong di rumah kita, tanami dengan tumbuhan.



Sumber: CC. 11/VII 31 Mei-14 Jun 2006.

Jangan Marah, Dong!


Sering marah-marah di kantor? Walau tidak sampai dipecat, ketidakmampuan mengendalikan emosi tersebut berpotensi menghancurkan karier Anda!

Menurut Rhonda Britten, penulis Fearless Living, sebelum amarah lepas kendali, pergilah sejenak keluar kantor, atau lepaskan frustrasi dengan curhat kepada teman atau rekan kerja. Namun jika terlanjur meledak, segera cari tempat untuk menenangkan diri. Setelah itu, minta maaflah kepada semua orang yang sempat kena dampaknya.

"Semakin cepat Anda melakukannya," ujar Michael McIntyre, psikolog industri, "semakin cepat juga kenangan buruk tersebut terhapus."

Menjadi atasan pun tak berarti Anda bebas marah-marah di kantor.
"Sebagai bos, Anda bisa memberi tahu kesalahan karyawan tanpa harus disertai ledakan amarah," ujar Jim O'Connor, presiden Cuss Control Academy di Lake Forest, Illinois.

T. SHAWN TAYLOR, Chicago Tribune.


Sumber: RD September 2006

Belajar Bijak dari Nelayan


Seorang cendekiawan menumpang perahu di sebuah danau. Ia bertanya pada tukang perahu,

"Sobat, pernahkah Anda mempelajari Matematika?"
"Tidak."
"Sayang sekali, berarti Anda telah kehilangan seperempat dari kehidupan Anda. Atau, barangkali Anda pernah mempelajari ilmu filsafat?"
"Itu juga tidak."
"Dua kali sayang, berarti Anda telah kehilangan lagi seperempat dari kehidupan Anda. Bagaimana dengan sejarah?"
"Juga tidak."
"Artinya, seperempat lagi kehidupan Anda telah hilang."

Tiba-tiba angin bertiup kencang dan terjadi badai. Danau yang tadinya tenang menjadi bergelombang, perahu yang ditumpangi mereka pun oleng. Cendekiawan itu pucat ketakutan. Dengan tenang tukang perahu itu bertanya,
"Apakah Anda pernah belajar berenang?"
"Tidak."
"Sayang sekali, berarti Anda akan kehilangan seluruh kehidupan Anda."


Kiriman humor dari seorang teman di atas mengajarkan kita beberapa hal:
  1. Kita tidak boleh sombong.
  2. Setinggi apa pun pendidikan kita, kita tidak mungkin menguasai semua ilmu, apalagi keterampilan.
  3. Kita membutuhkan orang lain, tidak peduli seberapa rendah pendidikan orang itu.

Makin Tinggi Hati, Makin Sakit Bila Jatuh.

Kisah cendekiawan yang sombong itu mengingatkan saya pada cerita seorang teman saya, Dave Hagelberg. Suatu kali ketika kami bersama-sama berdiri di sebuah pantai, pakar bahasa Yunani ini bercerita bahwa temannya pernah tenggelam di pantai.

Temannya itu seorang doktor di bidang geocostal morphologist, yaitu sebuah cabang ilmu mengenai perpantaian yang sangat langka dimiliki ilmuwan lain. Ia berdiri di suatu tempat dan ditegur oleh nelayan.

"Tuan, jangan berdiri di situ! Tempat itu sangat berbahaya."

Dengan tertawa ngakak, doktor ahli pantai itu berkata,
"Di dunia ini tidak banyak orang yang lebih mengerti seluk-beluk perpantaian dibanding saya."

Ucapannya itu adalah kata-katanya yang terakhir. Ombak menerjang di tempat ia berdiri, menyeretnya ke tengah laut, dan ia pun lenyap.

Cerita tentang nelayan adalah cerita klasik yang kebenarannya perlu kita renungkan.

Suatu kali seorang pengusaha sedang berlibur ke sebuah kampung nelayan. Ia merasa terganggu saat melihat seorang nelayan sedang bersantai di bawah pohon.

"Pak, mengapa Bapak tidak melaut?"
"Saya sudah melaut semalam dan saya perlu beristirahat."
"Kalau Bapak melaut lagi, Bapak akan menghasilkan banyak ikan."
"Lalu?"
"Bapak bisa mengumpulkan uang untuk membeli sebuah perahu."
"Lalu?"
"Dengan perahu itu, Bapak tidak perlu lagi menyetorkan sebagian keuntungan Bapak kepada pemilik perahu."
"Lalu?"
"Bapak bisa mengumpulkan lebih banyak uang untuk membeli perahu kedua."
"Lalu?"
"Dengan dua perahu, Bapak bisa menghasilkan lebih banyak uang dan membeli perahu ketiga, perahu keempat, perahu kelima, dan seterusnya."
"Lalu?"
"Jika perahu Bapak sudah banyak, Bapak bisa menyewakannya pada nelayan lain sehingga Bapak tidak perlu melaut."
"Lalu?"
"Bapak bisa hidup tenang dan bersantai."

Nelayan itu tersenyum dan berkata,
"Menurut Bapak, apa yang sedang saya lakukan sekarang?"

Nasihat pengusaha itu baik. Namun, apa yang dilakukan nelayan itu justru mengajarkan kita satu hal, "HIDUP HARUS SEIMBANG."

Pepatah Amerika mengatakan,

"Bekerja terus tanpa beristirahat akan menghasilkan orang seperti Jack, seorang yang mati dengan cepat dan Jean, seorang janda kaya."

Kita perlu, secara sengaja, berhenti sejenak dari kerja keras dan rutinitas kita untuk menikmati segarnya rerumputan hijau, kicauan burung di udara, dan harumnya mawar yang sedang mekar.


"Berani Berpikir Besar"
penulis: Xavier Quentin Pranata