Iri Tiada Henti

Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya.
Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya.

Ketika sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat.
Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari.
Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.

Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya.
Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.

Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya.
Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung.
Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.

Ketika ia sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya.
Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu.
Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok... sampai Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: "Rasa berkecukupan adalah kekayaan terbesar."

Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan.
Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.
Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap delapan kondisi duniawi.

Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap kondisi duniawi.
Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apapun.

Be happy!
Have a positive day dan tetap semangat!



Sumber: Milis CHIC

Ibu Bermata Satu



Oleh: Tidak Diketahui


Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku membencinya sungguh memalukan. Ia menjadi juru masak di sekolah, untuk membiayai keluarga. Suatu hari ketika aku masih SD, ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia lakukan ini? Aku memandangnya dengan penuh kebencian dan melarikan.

Keesokan harinya di sekolah.
"Ibumu hanya punya satu mata?!?!" Ieeeeee, jerit seorang temanku. Aku berharap ibuku lenyap dari muka bumi. Ujarku pada ibu, "Bu, mengapa Ibu tidak punya satu mata lainnya? Kalau Ibu hanya ingin membuatku ditertawakan, lebih baik Ibu mati saja!!!" Ibuku tidak menyahut.

Aku merasa agak tidak enak, tapi pada saat yang bersamaan, lega rasanya sudah mengungkapkan apa yang ingin sekali kukatakan selama ini. Mungkin karena Ibu tidak menghukumku, tapi aku tak berpikir sama sekali bahwa perasaannya sangat terluka karenaku.

Malam itu.. Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku
sedang menangis, tanpa suara, seakan-akan ia takut aku akan terbangun karenanya. Aku memandangnya sejenak, dan kemudian berlalu. Akibat perkataanku tadi, hatiku tertusuk. Walaupun begitu, aku membenci ibuku yang sedang menangis dengan satu matanya. Jadi aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi orang yang sukses.

Kemudian aku belajar dengan tekun. Kutinggalkan ibuku dan pergi ke Singapura untuk menuntut ilmu. Lalu aku pun menikah. Aku membeli rumah. Kemudian akupun memiliki
anak. Kini aku hidup dengan bahagia sebagai seorang yang sukses. Aku menyukai tempat tinggalku karena tidak membuatku teringat akan ibuku.

Kebahagian ini bertambah terus dan terus, ketika..

Apa?! Siapa ini?! Itu ibuku. Masih dengan satu matanya. Seakan-akan langit runtuh menimpaku. Bahkan anak-anakku berlari ketakutan, ngeri melihat mata Ibuku. Kataku, "Siapa kamu?! Aku tak kenal dirimu!!"
Untuk membuatnya lebih dramatis, aku berteriak padanya, "Berani-beraninya kamu datang ke sini dan menakuti anak-anakku!! KELUAR DARI SINI! SEKARANG!!"

Ibuku hanya menjawab perlahan, "Oh, maaf. Sepertinya saya salah alamat," dan ia pun berlalu. Untung saja ia tidak mengenaliku. Aku sungguh lega.

Aku tak peduli lagi. Akupun menjadi sangat lega.

Suatu hari, sepucuk surat undangan reuni sekolah tiba di rumahku di Singapura.

Aku berbohong pada istriku bahwa aku ada urusan kantor. Akupun pergi ke sana .. Setelah reuni, aku mampir ke gubuk tua, yang dulu aku sebut rumah.. Hanya ingin tahu saja. Di sana , kutemukan ibuku tergeletak dilantai yang dingin. Namun aku tak meneteskan air mata sedikit pun. Ada selembar kertas di tangannya. Sepucuk surat untukku.

"Anakku..Kurasa hidupku sudah cukup panjang.. Dan..aku tidak akan pergi ke Singapura lagi.. Namun apakah berlebihan jika aku ingin kau menjengukku sesekali? Aku sangat merindukanmu. Dan aku sangat gembira ketika tahu kau akan datang ke reuni itu. Tapi kuputuskan aku tidak pergi ke sekolah. Demi kau.. Dan aku minta maaf karena hanya membuatmu malu dengan satu mataku.

Kau tahu, ketika kau masih sangat kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tak tahan melihatmu tumbuh hanya dengan satu mata. Maka aku berikan mataku untukmu.Aku sangat bangga padamu yang telah melihat seluruh dunia untukku, di tempatku, dengan mata itu. Aku tak pernah marah atas semua kelakuanmu.

Ketika kau marah padaku.. Aku hanya membatin sendiri, "Itu karena ia mencintaiku. Anakku! Oh, anakku!"

Pesan Moral:

Pesan ini memiliki arti yang mendalam dan disebarkan agar orang ingat bahwa kebaikan yang mereka nikmati itu adalah karena kebaikan orang lain secara langsung maupun tak langsung. Berhentilah sejenak dan renungi hidupAnda!

Bersyukurlah atas apa yang Anda miliki sekarang dibandingkan apa yang tidak dimiliki oleh jutaan orang lain! Luangkan waktu untuk mendoakan ibu Anda! Luangkan waktu untuk Ibu yang telah mengandung dan membesarkan kita semua. Jasa Ibu kepada anak-anaknya tak dapat dinilai dengan apapun juga.

Mari kita sayangi Ibu kita...

Untuk para Ibu, terima kasih atas jasa-jasamu....

Love you Mom!

Being the Best



We all can't be captains, some have to be crew...
There is something for all of us.

So, if you can't be a highway,
then be a great trail.
If you can't be a sun, be star.

It isn't by size that you win or you fail,
The difference lies in.
Just being the best at whatever you are..



Source: FFO Group.

3 Things


3 things in life once gone never come back:
~ Words ~ Opportunity ~ Time

3 things in life are never sure:
~ Dreams ~ Success ~ Fortune

3 things in life that make you a great person:
~ Hardwork ~ Sincerity ~ Success

3 things in life are most valuable:
~ Love ~ Self respect ~ Time

3 things in life must not be lost:
~ Peace ~ Hope ~ Honesty

3 things in life that destroy a person:
~ Greed ~ Pride ~ Anger


Source: FFO group

Dilarang Lembur!



Ada perusahaan pertukangan di Inggris bernama Farley & Son yang beberapa tahun lalu memenangkan penghargaan terkemuka bagi praktik bisnis mereka. Mereka bekerja di bidang pemeliharaan bangunan. Yang membuat mereka mendapatkan penghargaan ini adalah karena dalam waktu 12 bulan mereka berhasil melipat-tigakan penghasilan mereka, melipat-duakan laba mereka, dan tidak ada karyawan mereka yang meninggalkan perusahaan.

Cara mereka mencapai hal ini adalah dengan strategi yang sangat sederhana: menghapus lembur. Tak seorang pun di perusahaan ini diizinkan bekerja di luar 8-9 jam kerja yang diwajibkan bagi mereka. Tentu saja hal ini tampaknya berlawanan dengan akal sehat bagi kebanyakan perusahaan. Anda akan berpikir, "Tapi kami punya banyak proyek untuk digarap. Mari kita kerja lebih keras." Dan apa yang terjadi? Ya, Anda bisa menyelesaikan proyek-proyek itu, namun kualitasnya tidak bagus, pegawai Anda kesal, dan mereka akan meninggalkan perusahaan, mereka mengucapkan hal-hal buruk karena keletihan mereka, dan keletihan membawa pada negativitas dan kemurungan.

Alih-alih, mereka melarang lembur, yang berarti pegawainya harus bekerja dengan benar-benar efisien.

1. Mereka tidak akan mau meninggalkan perusahaan yang jelas-jelas menunjukkan kepedulian pada pegawai.

Apakah perusahaan Anda peduli dengan Anda? Jika Anda menemukan suatu perusahaan yang peduli, apakah Anda ingin meninggalkan perusahaan seperti itu?
Hukum karma mendasar: jika Anda peduli dengan orang lain, kemungkinan besar orang akan peduli balik kepada Anda.

Jadi yang pertama, mereka tidak kehilangan banyak pegawai. Siapa pun yang bekerja dalam perusahaan tahu bahwa sumber daya dalam skala besar hilang setiap kali kita harus melatih ulang para pegawai, mungkin bahkan lebih dari itu. Kadang kehilangan pegawai berarti kehilangan sumber daya mendasar perusahaan.

Salah satu faktor penting bagi kesuksesan perusahaan adalah mempertahankan karyawan, atau dalam istilah ilmu SDM modern disebut "mempertahankan bakat". Jika Anda melihat banyak jurnal ekonomi, Anda akan melihat bahwa salah satu masalah terbesar dalam bisnis modern adalah: menemukan bakat, melatih bakat itu, dan yang terpenting adalah mempertahankannya.

2. Kebaikan dan keramahan itu menyebar.

Bagaimana Anda bisa bekerja dengan efisien kalau Anda masih resah gara-gara ribut semalam dengan pasangan Anda? Atau kalau Anda merisaukan prestasi anak di sekolah, atau apakah anak terkena pergaulan tidak sehat, dan sebagainya.

Dengan mengijinkan karyawan memiliki waktu untuk keluarga, karyawan bisa bekerja dengan efisien karena tidak ada hal yang mengusik mereka. Mereka juga tidak menghabiskan waktu dan tenaga mereka dalam politik kantor, yang membuat orang selalu mengeluh.

Keluhan-keluhan di kantor merupakan masalah besar, dan sebagian masalah ini muncul akibat kelelahan, tekanan, terlalu banyak bekerja, terlalu banyak tuntutan, yang benar-benar sudah sampai batasnya. Semua orang tahu bahwa kerja tim dan semangat adalah faktor besar kesuksesan.

Perusahaan Farley & Son itu telah memupuknya. Mereka memiliki semangat tinggi, efisiensi, serta keluarga karyawan, rekanan, pemasok, dan pelanggan. Semua pelanggan ingin perawatan gedung atau kantor mereka dikerjakan oleh perusahaan ini. Mereka senang dengan orang-orang ini! Karena para pegawainya mencintai perusahaan ini, karena perusahaan ini peduli pada pegawainya.

Anda bisa lihat, nilai spiritual seperti ini bisa membuat bekerja menjadi pengalaman yang positif, mulai dari tataran CEO yang harus memikirkan untung-rugi perusahaan sampai ke jajaran buruh terbawah sekalipun.



Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2
by: Ajahn Brahm