3 Things


3 things in life once gone never come back:
~ Words ~ Opportunity ~ Time

3 things in life are never sure:
~ Dreams ~ Success ~ Fortune

3 things in life that make you a great person:
~ Hardwork ~ Sincerity ~ Success

3 things in life are most valuable:
~ Love ~ Self respect ~ Time

3 things in life must not be lost:
~ Peace ~ Hope ~ Honesty

3 things in life that destroy a person:
~ Greed ~ Pride ~ Anger


Source: FFO group

Dilarang Lembur!



Ada perusahaan pertukangan di Inggris bernama Farley & Son yang beberapa tahun lalu memenangkan penghargaan terkemuka bagi praktik bisnis mereka. Mereka bekerja di bidang pemeliharaan bangunan. Yang membuat mereka mendapatkan penghargaan ini adalah karena dalam waktu 12 bulan mereka berhasil melipat-tigakan penghasilan mereka, melipat-duakan laba mereka, dan tidak ada karyawan mereka yang meninggalkan perusahaan.

Cara mereka mencapai hal ini adalah dengan strategi yang sangat sederhana: menghapus lembur. Tak seorang pun di perusahaan ini diizinkan bekerja di luar 8-9 jam kerja yang diwajibkan bagi mereka. Tentu saja hal ini tampaknya berlawanan dengan akal sehat bagi kebanyakan perusahaan. Anda akan berpikir, "Tapi kami punya banyak proyek untuk digarap. Mari kita kerja lebih keras." Dan apa yang terjadi? Ya, Anda bisa menyelesaikan proyek-proyek itu, namun kualitasnya tidak bagus, pegawai Anda kesal, dan mereka akan meninggalkan perusahaan, mereka mengucapkan hal-hal buruk karena keletihan mereka, dan keletihan membawa pada negativitas dan kemurungan.

Alih-alih, mereka melarang lembur, yang berarti pegawainya harus bekerja dengan benar-benar efisien.

1. Mereka tidak akan mau meninggalkan perusahaan yang jelas-jelas menunjukkan kepedulian pada pegawai.

Apakah perusahaan Anda peduli dengan Anda? Jika Anda menemukan suatu perusahaan yang peduli, apakah Anda ingin meninggalkan perusahaan seperti itu?
Hukum karma mendasar: jika Anda peduli dengan orang lain, kemungkinan besar orang akan peduli balik kepada Anda.

Jadi yang pertama, mereka tidak kehilangan banyak pegawai. Siapa pun yang bekerja dalam perusahaan tahu bahwa sumber daya dalam skala besar hilang setiap kali kita harus melatih ulang para pegawai, mungkin bahkan lebih dari itu. Kadang kehilangan pegawai berarti kehilangan sumber daya mendasar perusahaan.

Salah satu faktor penting bagi kesuksesan perusahaan adalah mempertahankan karyawan, atau dalam istilah ilmu SDM modern disebut "mempertahankan bakat". Jika Anda melihat banyak jurnal ekonomi, Anda akan melihat bahwa salah satu masalah terbesar dalam bisnis modern adalah: menemukan bakat, melatih bakat itu, dan yang terpenting adalah mempertahankannya.

2. Kebaikan dan keramahan itu menyebar.

Bagaimana Anda bisa bekerja dengan efisien kalau Anda masih resah gara-gara ribut semalam dengan pasangan Anda? Atau kalau Anda merisaukan prestasi anak di sekolah, atau apakah anak terkena pergaulan tidak sehat, dan sebagainya.

Dengan mengijinkan karyawan memiliki waktu untuk keluarga, karyawan bisa bekerja dengan efisien karena tidak ada hal yang mengusik mereka. Mereka juga tidak menghabiskan waktu dan tenaga mereka dalam politik kantor, yang membuat orang selalu mengeluh.

Keluhan-keluhan di kantor merupakan masalah besar, dan sebagian masalah ini muncul akibat kelelahan, tekanan, terlalu banyak bekerja, terlalu banyak tuntutan, yang benar-benar sudah sampai batasnya. Semua orang tahu bahwa kerja tim dan semangat adalah faktor besar kesuksesan.

Perusahaan Farley & Son itu telah memupuknya. Mereka memiliki semangat tinggi, efisiensi, serta keluarga karyawan, rekanan, pemasok, dan pelanggan. Semua pelanggan ingin perawatan gedung atau kantor mereka dikerjakan oleh perusahaan ini. Mereka senang dengan orang-orang ini! Karena para pegawainya mencintai perusahaan ini, karena perusahaan ini peduli pada pegawainya.

Anda bisa lihat, nilai spiritual seperti ini bisa membuat bekerja menjadi pengalaman yang positif, mulai dari tataran CEO yang harus memikirkan untung-rugi perusahaan sampai ke jajaran buruh terbawah sekalipun.



Sumber:
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2
by: Ajahn Brahm


Permennya Lupa Dimakan


Alkisah ada dua orang anak laki-laki, Bob dan Bib, yang sedang melewati lembah permen lolipop. Di tengah lembah itu terdapat jalan setapak yang beraspal. Di jalan itulah Bob dan Bib berjalan kaki bersama. Uniknya, di kiri-kanan jalan lembah itu terdapat banyak permen lolipop yang berwarna-warni dengan aneka rasa. Permen-permen yang terlihat seperti berbaris itu seakan menunggu tangan-tangan kecil Bob dan Bib untuk mengambil dan menikmati kelezatan mereka.

Bob sangat kegirangan melihat banyaknya permen lolipop yang bisa diambil. Maka ia pun sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut. Ia mempercepat jalannya supaya bisa mengambil permen lilopop lainnya yang terlihat sangat banyak di depannya. Bob mengumpulkan sangat banyak permen lolipop yang ia simpan di dalam tas karungnya. Ia sibuk mengumpulkan permen-permen tersebut tapi sepertinya permen-permen tersebut tidak pernah habis. Maka, ia memacu langkahnya supaya bisa mengambil semua permen yang dilihatnya.

Tanpa terasa Bob sampai di ujung jalan lembah permen lolipop. Dia melihat gerbang bertuliskan "Selamat Jalan". Itulah batas akhir lembah permen lolipop. Di ujung jalan, Bob bertemu seorang lelaki penduduk sekitar. Lelaki itu bertanya kepada Bob, "Bagaimana perjalanan kamu di lembah permen lolipop? Apakah permen-permennya lezat? Apakah kamu mencoba yang rasa jeruk? Itu rasa yang paling disenangi. Atau kamu lebih menyukai rasa mangga? Itu juga sangat lezat."

Bob terdiam mendengar pertanyaan lelaki tadi. Ia merasa sangat lelah dan kehilangan tenaga. Ia telah berjalan sangat cepat dan membawa begitu banyak permen lolipop yang terasa berat di dalam tas karungnya. Tapi ada satu hal yang membuatnya merasa terkejut dan ia pun menjawab pertanyaan lelaki tadi, "Permennya saya lupa makan!"

Tak berapa lama kemudian, Bib sampai di ujung jalan lembah permen lolipop.
"Hai, Bob! Kamu berjalan cepat sekali. Saya memanggil-manggil kamu tapi kamu sudah sangat jauh di depan saya."
"Kenapa kamu memanggil saya?" tanya Bob.
"Saya ingin mengajak kamu duduk dan makan permen anggur bersama. Rasanya lezat sekali. Juga saya menikmati pemandangan lembah, indah sekali!" Bib bercerita panjang lebar kepada Bob.
"Lalu tadi ada seorang kakek tua yang sangat kelelahan. Saya temani dia berjalan. Saya beri dia beberapa permen yang ada di tas saya. Kami makan bersama dan dia banyak menceritakan hal-hal yang lucu. Kami tertawa bersama," Bib menambahkan.

Mendengar cerita Bib, Bob menyadari betapa banyak hal yang telah ia lewatkan dari lembah permen lolipop yang sangat indah. Ia terlalu sibuk mengumpulkan permen-permen itu. Tapi pun ia sampai lupa memakannya dan tidak punya waktu untuk menikmati kelezatannya karena ia begitu sibuk memasukkan semua permen itu ke dalam tas karungnya.

Di akhir perjalanannya di lembah permen lolipop, Bob menyadari suatu hal dan ia bergumam kepada dirinya sendiri,
"Perjalanan ini bukan tentang berapa banyak permen yang telah saya kumpulkan, tapi tentang bagaimana saya menikmatinya dengan berbagi dan bahagia."
Ia pun berkata dalam hati, "Waktu tidak bisa diputar kembali."
Perjalanan di lembah lolipop sudah berlalu dan Bob pun harus melanjutkan kembali perjalanannya.



Renungan:

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang ternyata kita lewati begitu saja. Kita lupa untuk berhenti sejenak dan menikmati kebahagiaan hidup. Kita menjadi Bob di lembah permen lolipop yang sibuk mengumpulkan permen tapi lupa untuk menikmatinya dan menjadi bahagia.

Pernahkan Anda bertanya kapan waktunya untuk merasakan bahagia? Jika saya tanyakan pertanyaan tersebut kepada para klien saya, biasanya mereka menjawab, "Saya akan bahagia nanti... nanti pada waktu saya sudah menikah... nanti pada waktu saya memiliki rumah sendiri... nanti pada saat suami saya lebih mencintai saya... nanti pada saat saya telah meraih semua impian saya... nanti pada saat penghasilan sudah sangat besar... "

Pemikiran 'nanti' itu membuat kita bekerja sangat keras di saat 'sekarang'. Semuanya itu supaya kita bisa mencapai apa yang kita konsepkan tentang masa 'nanti' bahagia. Terkadang jika saya renungkan hal tersebut, ternyata kita telah mengorbankan begitu banyak hal dalam hidup ini untuk masa 'nanti' bahagia. Ritme kehidupan kita menjadi sangat cepat tapi rasanya tidak pernah sampai di masa 'nanti' bahagia itu. Ritme hidup yang sangat cepat... target-target tinggi yang harus kita capai, yang anehnya kita sendirilah yang membuat semua target itu... tetap semuanya itu tidak pernah terasa memuaskan dan membahagiakan.

Uniknya, pada saat kita memelankan ritme kehidupan kita; pada saat kita duduk menikmati keindahan pohon bonsai di beranda depan, pada saat kita mendengarkan cerita lucu anak-anak kita, pada saat makan malam bersama keluarga, pada saat kita duduk bermeditasi atau pada saat membagikan beras dalam acara bakti sosial tanggap banjir; hidup terasa menjadi lebih indah.

Jika saja kita mau memelankan ritme hidup kita dengan penuh kesadaran, memelankan ritme makan kita, memelankan ritme jalan kita dan menyadari setiap gerak tubuh kita, berhenti sejenak dan memperhatikan tawa indah anak-anak bahkan menyadari setiap hembusan nafas, maka kita akan menyadari begitu banyak detil kehidupan yang begitu indah dan bisa disyukuri. Kita akan merasakan ritme yang berbeda dari kehidupan yang ternyata jauh lebih damai dan tenang. Dan pada akhirnya akan membawa kita menjadi lebih bahagia dan bersyukur seperti Bib yang melewati perjalanannya di lembah permen lolipop.



Sumber: Milis CHIC.

Mari Mengunyah!

Mengunyah Tingkatkan Konsentrasi


Macet ide? Otak buntu? Kunyahlah permen karen. Mengunyah bukan hanya bagus untuk senam muka, tapi juga meningkatkan konsentrasi. Para ahli menyimpulkan saat mengunyah hipotalamus di bagian otak akan melepaskan hormon-hormon spesifik yang membuat Anda selalu siaga dan waspada.



Sumber: CHIC 7-21 Mei 2008

Keindahan Fisik Bukanlah Jaminan Keindahan Batinnya



Seorang anak lelaki memasuki Pet Shop bertuliskan "Dijual Anak Anjing".
Ia bertanya, "Berapa harga seekor anak anjing?"
Pemilik toko menjawab, "Sekitar 20 sampai 50 Dollar."
Anak itu berkata, "Aku hanya mempunyai 23,5 dollar. Bisakah aku melihat-lihat anak anjing itu?"

Pemilik toko tersenyum. Ia lalu bersiul. Tak lama kemudian muncullah lima ekor anak anjing sambil berlarian.
Tapi ada seekor yang tampak tertinggal di belakang.
Anak itu bertanya, "Kenapa anak anjing itu?"
Pemilik toko menjelaskan bahwa anak anjing itu menderita cacat karena kelainan di pinggul saat lahir.

Anak lelaki itu tampak gembira dan berkata, "Aku beli anak anjing itu."
Pemilik toko menjawab, "Jangan, jangan beli anak anjing cacat itu, Nak. Jika kau ingin memilikinya, aku akan berikan saja untukmu."
Anak itu kecewa.
Ia mentap pemilik toko itu dan berkata, "Aku tak mau diberikan cuma-cuma. Meski cacat, harganya sama seperti anak anjing lainnya. Aku akan bayar penuh. Saat ini uangku 23,5 dollar. Setiap hari aku akan mengangsur 0,5 dollar sampai lunas."
Tetapi lelaki itu menolak, "Nak, jangan beli anak anjing ini. Dia tidak bisa lari cepat, tidak bisa melompat dan bermain seperti anak anjing lainnya."

Anak itu terdiam. Lalu ia menarik ujung celana panjangnya. Dan tampaklah kaki yang cacat.
Ia menatap pemilik toko itu dan berkata, "Tuan, aku pun tidak bisa berlari cepat. Akupun tidak bisa melompat-lompat dan bermain-main seperti anak lelaki lain. Oleh karena itu aku tahu, bahwa anak anjing itu membutuhkan seseorang yang bisa mengerti penderitaannya."
Pemilik toko itu terharu dan berkata, "Aku akan berdoa setiap hari agar anak-anak anjing ini mempunyai majikan sebaik engkau."


Nilai kemuliaan hidup bukanlah terletak pada status atau kelebihan yang kita miliki, melainkan pada apa yang kita lakukan berdasarkan pada Hati Nurani, yang mengerti dan menerima kekurangan.



Sumber: Kisah Buddhis Group